.
Showing posts with label Sholat. Show all posts
Showing posts with label Sholat. Show all posts

Tuesday, July 9, 2013

Selamat menunaikan ibadah puasa

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. di bulan suci ini pastilah kita merasa bahagia, sebab dengan datangnya bulan ini, kita sebagai umat muslim yang rindu akan Rasulullah sangatlah mendambakan adanya bulan penuh Rahmat. penuh ampunan dan bulan penebus dosa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. 2:183).

Orang sebelum kita saja sudah berpuasa, mereka berpuasa karna merasa bersyukur akas segala karunia yang mereka miliki, segalanya milik allah. dan pemberian dari NYA. jika kita tidak berpuasa berarti kita tidak mensyukuri nikmat Allah.
Puasa hanya di wajibkan selama sebulan, sedangkan di bulan lain tidak di wajibkan, jika kita mau berfikir, kita sudah di beri banyak nikmat oleh Allah selama bulan selain rhamadhan. Maka sangatlah wajib jika harus berpuasa di bulan rhomadhon.
Selain itu puasa juga melatih kita supaya bersikap lebih baik, seperti belajar berakhlak mulia. belajar menahan diri dari hawa nafsu, amarah dan sifat jelak lainya, jika di saat belajar kita sungguh sungguh maka di bulan lain nya seharusnya kita masih memiliki sifat baik untuk menghindari sifat jelak, tidak pemarah, murah hari dan sebagainya.
Hal ini sangat penting bagi umat Islam. oleh sebab itu, para orang tua sebaiknya memberikan pelajaran berharga ini kepada anak-anak selagi masih kecil, supaya  nanti bisa mengerti apa arti puasa itu.
Segala sesuatu yang di wajibkan pasti itu baik untuk di lakukan, pelajari kembali manfaat puasa, dan ajarkan kepada yang belum mengerti.

Rhamadhan membawa berkah, selama bulan rhamadhan ini, banyak orang yang mendapat berkahnya, seperti dagangan menjadi lebih laris, banyak pedagang dadakan. mbanyak orang lebih rajin bershodaqoh. satu sama lain makin saling menyayangi. kekerasan menurun, dan selalu ada kebahagiaan, antar umat.

Yuk berpuasa dengan niat yang ikhlas dan juga memperbanyak amal. dengan demikian, kita akan di cintai Rasulullah dan Allah SWT.
Semoga amal ibadah kita di terima di bulan yang suci ini. Amin ya robbal a'lamin..

Monday, March 5, 2012

Rukun Sholat

Syarat-Syarat Shalat
Shalat tidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang wajib ada padanya serta menghindari hal-hal yang akan membatalkannya.

Adapun syarat-syaratnya ada sembilan: 1. Islam, 2. Berakal, 3. Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), 4. Menghilangkan hadats, 5. Menghilangkan najis, 6. Menutup aurat, 7. Masuknya waktu, 8. Menghadap kiblat, 9. Niat.
Secara bahasa, syuruuth (syarat-syarat) adalah bentuk jamak dari kata syarth yang berarti alamat.
Sedangkan menurut istilah adalah apa-apa yang ketiadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah). Contohnya, jika tidak ada thaharah (kesucian) maka shalat tidak ada (yakni tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti adanya shalat (belum memastikan sahnya shalat, karena masih harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajibnya dan menghindari hal-hal yang membatalkannya, pent.). Adapun yang dimaksud dengan syarat-syarat shalat di sini ialah syarat-syarat sahnya shalat tersebut.

Penjelasan Sembilan Syarat Sahnya Shalat
1. Islam
Lawannya adalah kafir. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja, dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal." (At-Taubah:17)
Dan firman Allah 'azza wa jalla, "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (Al-Furqan:23)
Shalat tidak akan diterima selain dari seorang muslim, dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Aali 'Imraan:85) 


2. Berakal
Lawannya adalah gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَالْمَجْنُوْنِ حَتَّى يُفِيْقَ، وَالصَّغِيْرِ حَتَّى يَبْلُغَ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَه)
"Diangkat pena dari tiga orang: 1. Orang tidur hingga dia bangun, 2. Orang gila hingga dia sadar, 3. Anak-anak sampai ia baligh." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah). 


3. Tamyiz
Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

مُرُوْا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ. (رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَاْلإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَ)
"Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing." (HR. Al-Hakim, Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud) 


4. Menghilangkan Hadats (Thaharah)
Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabat dan haidh, dihilangkan dengan mandi (yakni mandi janabah), dan hadats ashghar (hadats kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci." (HR. Muslim dan selainnya)
Dan sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, "Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`." (Muttafaqun 'alaih) 


5. Menghilangkan Najis
Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (lantai tempat shalat), dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Dan pakaianmu, maka sucikanlah." (Al-Muddatstsir:4)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

تَنَزَّهُوْا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ.
"Bersucilah dari kencing, sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya." 


6. Menutup Aurat
Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haidh (yakni yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah)." (HR. Abu Dawud)
Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan mahramnya) yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga.
Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadits Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu 'anhu, "Kancinglah ia (baju) walau dengan duri."
Dan firman Allah 'azza wa jalla, "Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid." (Al-A'raaf:31) Yakni tatkala shalat. 


7. Masuk Waktu
Dalil dari As-Sunnah ialah hadits Jibril 'alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata: "Wahai Muhammad, shalat itu antara dua waktu ini."
Dan firman Allah 'azza wa jalla, "Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (An-Nisa`:103)
Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah 'azza wa jalla, "Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (Al-Israa`:78) 


8. Menghadap Kiblat
Dalilnya firman Allah, "Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya." (Al-Baqarah:144)
9. Niat
Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah bid'ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur, "Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya." (Muttafaqun 'alaih dari 'Umar Ibnul Khaththab)

Rukun-Rukun Shalat
Rukun-rukun shalat ada empat belas: 1. Berdiri bagi yang mampu, 2. Takbiiratul-Ihraam, 3. Membaca Al-Fatihah, 4. Ruku', 5. I'tidal setelah ruku', 6. Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh, 7. Bangkit darinya, 8. Duduk di antara dua sujud, 9. Thuma'ninah (Tenang) dalam semua amalan, 10. Tertib rukun-rukunnya, 11. Tasyahhud Akhir, 12. Duduk untuk Tahiyyat Akhir, 13. Shalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 14. Salam dua kali.

Penjelasan Empat Belas Rukun Shalat
1. Berdiri tegak pada shalat fardhu bagi yang mampu
Dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (shalat 'Ashar), serta berdirilah untuk Allah 'azza wa jalla dengan khusyu'." (Al-Baqarah:238)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Shalatlah dengan berdiri..." (HR. Al-Bukhary)
2. Takbiiratul-ihraam, yaitu ucapan: 'Allahu Akbar', tidak boleh dengan ucapan lain
Dalilnya hadits, "Pembukaan (dimulainya) shalat dengan takbir dan penutupnya dengan salam." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
Juga hadits tentang orang yang salah shalatnya, "Jika kamu telah berdiri untuk shalat maka bertakbirlah." (Idem)
3. Membaca Al-Fatihah
Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap raka'at, sebagaimana dalam hadits,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
"Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah." (Muttafaqun 'alaih)
4. Ruku'
5. I'tidal (Berdiri tegak) setelah ruku'
6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh
7. Bangkit darinya
8. Duduk di antara dua sujud
Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah 'azza wa jalla, "Wahai orang-orang yang beriman ruku'lah dan sujudlah." (Al-Hajj:77)
Sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, "Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi." (Muttafaqun 'alaih) 


9. Thuma'ninah dalam semua amalan 


10. Tertib antara tiap rukun
Dalil rukun-rukun ini adalah hadits musii` (orang yang salah shalatnya),
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: 'Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, ... Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: 'Kembali! Ulangi shalatmu!t Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, ... sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata: 'Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!' Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: 'Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku'lah hingga kamu tenang dalam ruku', lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim) 


11. Tasyahhud Akhir
Tasyahhud akhir termasuk rukun shalat sesuai hadits dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Tadinya, sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan: 'Assalaamu 'alallaahi min 'ibaadih, assalaamu 'alaa Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah 'azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril 'alaihis salam dan Mikail 'alaihis salam)', maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Jangan kalian mengatakan, 'Assalaamu 'alallaahi min 'ibaadih (Keselamatan atas Allah 'azza wa jalla dari para hamba-Nya)', sebab sesungguhnya Allah 'azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan tetapi katakanlah, 'Segala penghormatan bagi Allah, shalawat, dan kebaikan', ..." Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan hadits keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang shalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya. 


12. Duduk Tasyahhud Akhir
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Jika seseorang dari kalian duduk dalam shalat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat." (Muttafaqun 'alaih) 


13. Shalawat atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Jika seseorang dari kalian shalat... (hingga ucapannya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia bershalawat atas Nabi."
Pada lafazh yang lain, "Hendaklah ia bershalawat atas Nabi lalu berdoa." (HR. Ahmad dan Abu Dawud) 


14. Dua Kali Salam
Sesuai sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "... dan penutupnya (shalat) ialah salam."
Inilah penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun shalat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap melakukan shalat karena kalau meninggalkan salah satu rukun shalat baik dengan sengaja atau pun lupa maka shalatnya batal, harus diulang dari awal. Wallaahu A'lam.



Sumber artikel :
fdawj.co.nr

Friday, February 17, 2012

Agar Sholat Tetep Khusyu'


Wahai kaum musliminyang dimuliakan Allah Shubhanahu wa ta’alla!. Banyak orangyang shalat namun tidak mengetahui apakah manfaat shalat yang sebenarnya dantidak pula menghormatinya dengan semestinya, karena sebab itulah shalat menjadiberat bagi mereka dan tidak menjadi penyejuk bagi mereka, tidak menjadipenenang bagi jiwa serta tidak menjadi cahaya bagi hati yang gelap. Banyakorang yang mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa sama seperti gagak yangmamatuk makanan, tidak menyempurnakan tuma’ninah, orang yang seperti ini tidakmendapatkan apapun dari shalatnya walaupun mereka mengerjakannya seribu kali,sebab khusyu dan tuma’ninah dalam menjalankan shalat adalah termasuk rukunshalat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menegur seorang lelaki yangtidak menyempurnakan thuma’ninah dalam shalatnya: Kembalilah lalu ulangishalatmu sebab engkau belum shalat. Maka diapun kembali mengerjakan shalatbeberapa kali dan pada setiap kali dia mengualangi shalatnya beliau mengatakan:Kembali ulangi shalatmu sebab engkau belum shalat”. Muttafaq alaihi. SehinggaRasulullah shallallahu alaihi wa sallam:mengajarkannya bagaiamana shalat yang khusyu dan tuma’ninah yang sempurna. DanRasulullah shallallahu alaihi wa sallamjuga mengingatkan seorang lelaki yang memainkan jenggotnya saat menjalankanshalat: Seandainya hati orang ini khusyu’ maka anggota badannyapun ikutkhusyu’. Hadits dengan derajat lamah.
Oleh sebab itulahshalat sangat sulit dan berat bagi orang yang mengerjakan shalat seperti inisebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah Shubhanahu wa ta’alla:
قال الله تعالى: {وَإِنَّهَالَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ}(البقرة: 45)
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguhberat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (QS. Al-Baqarah: 45).
Wahai sekalian manusia!,tegakkan shalat kalian dan jagalah shalat tersebut, kerjakan dengan penuhkekhusyu’an, janganlah memainkan anggota badan dan pakaian saat menajalankanshalat, dan jangan pula meremehkan dan menyia-nyiakan shalat atau mengakhirkannyadari waktunya. Sebab tidak ada orang yang meninggalkan shalat, ataumeremehkanya atau menyia-nyiakannya karena perkara-perkara dunia kecuali orangyang telah ditetapkan tercela dan ditetapkan siksa yang pedih baginya. Orangyang meninggalkan shalat adalah orang yang dimurkai dan mati dalam keadaantidak Islam.
Allah Subahanahu Wa Ta’ala telah memperingatkan kalian darimenyia-nyiakan shalat dan meremehkannya. Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: {فَخَلَفَمِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَيَلْقَوْنَ غَيًّا} ( مريم: 59)
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yangjelek) yang menyia-nyiakanshalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelakakan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59).
Ali Radhillahu anhu berkata: Aku telahmendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang hamba meninggalkan shalat dantidak pula mengerjakannya kecuali akan ditulis pada wajahnya orang ini telahkeluar dari rahmat Allah Shubhanahu wata’alla dan saya berlepas diri darinya”.
Wahai hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla bertqwalahkepada -Nya dan berusahalah untukmengerjakan shalat dengan cara berjama’ah dengannya, niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberikankepada kalian rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Jagalah shalat dan kerjakanlahdengan cara yang khusyu’, sebab Allah Shubhanahuwa ta’alla telah berfirman di dalam kitab -Nya:
قال الله تعالى : {قَدۡأَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣ ةِ فَٰعِلُونَ ٤ وَٱلَّذِينَ هُمۡلِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡأَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَفَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡوَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ ٨ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ ٩أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡفِيهَا خَٰلِدُونَ} (المؤمنون: 1- 11)
Sesungguhnyaberuntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalamsalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yangmenjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang merekamiliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapamencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yangakan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal didalamnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-11).
Semoga AllahShubhanahu wa ta’alla memberikankeberkahannya bagiku dan bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yang mulia, danAllah Shubhanahu wa ta’alla memberikanmanfaat bagiku dan bagi kalian dengan ayat-ayat -Nya Yang Maha Bijaksana yang tertera di dalamnya. Hanya inilah yangbisa saya sampaikan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian sertaseluruh kaum muslimin kepada Allah Shubhanahuwa ta’alla yang Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepada -Nya danbertaubatlah kepada Allah Shubhanahu wata’alla, sebab Dia adalah Zat Yang Pengampun lagi Maha Penyayang.




KhutbahKedua
Segala pujibagi Allah Shubhanahu wa ta’alla yangtelah mewajibkan kepada para hamba -Nya beberapa shalat guna mewujudkan hikmahdan rahasia yang tinggi. Allah Shubhanahuwa ta’alla menjadikannya sebagai penghubung antara seorang hamba dengantuhannya agar hatinya menjadi terang dan segala tuntutannya terpenuhi baik didunia atau akherat.
Aku bersaksibahwa tiada tuhan yang berhak disembahselain Allah Shubhanahu wa ta’alla,Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, Yang Maha Perkasa lagi MahaPengampun. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang terpilih danistimewa, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan baginya, dan kepadakeluarga, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikansampai hari kiamat.
Amma Ba’du.Wahai sekalian hamba Allah Shubhanahu wata’alla takutlah kepada -Nya, dan ketahuilah bahwa seseorang tidak akanmengetahui harga dan kedudukan sesuatu sehingga dia mengetahui hakekat, faedahdan urgensinya dan tidak ada yang lebih pantas bagi seorang muslim darimengetahui hakekat dan urgensi ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan di antaraibadah yang paling agung dan besar adalah ibadah yang telah diwajibkan olehAllah Shubhanahu wa ta’alla kepadaNabi -Nya tanpa perantara, diwajibkan di atas tujuh langit yang tinggi dan Diamenjadikannya lima kali shalat dengan ganjaran pahala lima puluh kali shalatapakah itu tidak menjadi bukti nyata akan nilainya yang penting dankeutamaannya yang tinggi serta perhatian Islam terhadap kewajiban ini.
Apakahseorang muslim tidak menyadari hakikat shalat ini, dia adalah penghubung antaradirinya dengan Tuhannya.Dia berdiri di hadapan Tuhannya lima kali sehari, diabermunajat pada saat shalat tersebut, sambil memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla segalakebutuhannya. Seorang muslim berdiri tegak di hadapan Tuhannya agar dirinyadekat dengan Pencipta yang disembah dan dicintainya. Dia berdiri tegak dihadapan Tuhannya guna membuang segala keletihan dan kekeruhan serta kecemasanhidup lalu dia mengadu permasalahannya kepada Tuhannya. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahualaihi wa sallam selalu memerintahkan kepada Bilal: “Panggillah kita agartenang dengan shalat wahai Bilal”.
Dan padasaat seorang hamba kehilangan rasa kelezatan dalam mengerjakan ibadah ini makaengkau akan menadapatkan bahwa dirinya menyia-nyiakan ibadah ini baik dalammenunaikan ibadah ini atau dalam menyempurnakan rukun dan wajib shalat.
Engkau akanmendapatinya sering meninggalkan shalat, jika dia datang mengerjakan shalatmaka engkau melihatnya melakukannya seperti gagak yang mematuk makanan, tidakmenyempurnakan tuma’ninahnya dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja.
Engkau akanmendapatinya memasuki shalat dengan jasadnya semata bukan dengan hatinya,hatinya lalulalang ke sanake mari, berpikir tentang urusan dunianya, bagaimanakah orang seperti ini bisamerasakan kelezatan beriabadah?. Bagiamana mungkin shalat yang seperti ini bisamencegah kemungkaran atau menambah keimanan.
Realitainilah yang sering terjadi dan menimpa banyak orang, tiada daya dan upaya hanyadengan kehendak Allah Shubhanahu wata’alla semata. Seyogayanya bagi orang yang berdiri tegak di hadapantuhannya untuk menampakkan kebutuhannya kepada Tuhannya selalu memohon kepada-Nya agar diberi pertolongan. Dan hendaklah dia juga menghadirkan kesadarandirinya yang sedang sedang bermunajat dan berkomunikasi dengan Tuhannya danmeresapi makna apa yang dibacanya baik dari ayat-ayat Al-Qur’an, tasbih dantakbir. Sebab semua itu bisa membantunya untuk menjalankan shalat secarakhusyu’.
Inilahyang dapat saya sampaikan, dan curahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi yangdatang membawa kabar gmebira dan ancaman, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla telahmemerintahkan kepada kalian mengucapkan shalawat dan salam di dalamkitabsuci -Nya.

Bacaan Sholat Fardhu 5 Waktu

pengertian sabar dan cara ber sabar

Tips tips belajar cara Islam

Menjaga Keimanan Agar Tetap Stabil

Thursday, February 16, 2012

Renungan Tentang Kematian

Renungan Tentang Kematian
Mata wanita itu berkaca-kaca. Beliau tengah bercerita tentang suaminya yang kemarin meninggal dunia. Suaminya dipanggil menghadap Sang Pemilik Jiwa dalam usia yang masih terbilang muda. Baru saja suaminya menyelesaikan pendidikan S2-nya di negeri sakura. Kabarnya sakit Hepatitis. Beliau meninggalkan seorang isteri dan tiga anak yang masih kecil. Sulung mereka kelas 2 SD, teman sekelas anak saya waktu kelas satu. Yang paling kecil berusia tiga tahun.
“Sebenarnya Almarhum sudah merasakan sakit sejak bulan Mei, waktu masih di Jepang. Cuma karena saat itu sibuk menghadapi ujian, beliau menunda berobat dan periksa. Beliau mengira sakit biasa saja, dan akan lekas sembuh,” ujar ibu muda itu tegar. Beliau menambahkan putri pertama mereka begitu sering menangis, merasa amat kehilangan.
“Saat mau dibawa ke pemakaman, si kecil juga bertanya, Abi naik mobil mau dibawa ke rumah sakit lagi ya Mi? Kapan Abi pulang?” tutur wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Trenyuh hati kami mendengarnya. Benar-benar trenyuh.
Saya merenung. Kesadaran tentang hakikat kematian hadir di dalam dada ini. Kematian adalah suatu keniscayaan, salah satu episode kehidupan yang sering kita saksikan, atau nantinya akan kita alami. Kita dan orang-orang yang kita cintai, suatu saat pastilah akan kembali pada-Nya. Siap atau tidak siap, rela atau tidak rela, kita akan pergi atau ditinggal pergi meninggalkan dunia ini.
Pedih, perih, dan pilu adalah hal yang memenuhi ruang hati saat orang-orang yang kita cintai pergi meninggalkan alam fana ini. Duka yang kita rasakan amat dalam. Rasa kehilangan pun tak henti-henti menghinggapi. Mata pun sembab karena tangisan yang terus mengalir. Semua perasaan yang wajar terjadi. Rasulullah juga meneteskan air mata ketika Ibrahim, putranya, meninggal.
Saya teringat status FB saya sekitar dua bulan lalu. Status yang saya tulis terutama untuk mengingatkan diri saya sendiri.
Kematian, mesti kita memahaminya sebagai sebuah kepastian, tetapi ditinggalkan orang-orang yang kita cintai tetap saja meninggalkan duka yang teramat dalam. Bagi orang beriman yang menjadikan cinta dan ridha Rabbnya sebagai tujuan, tiada lagi pilihan kecuali ikhlas, sabar, ridha dan selalu mensyukuri setiap takdir kehidupan. Semoga Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang selalu mencintai kita.
Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali pada-Nya.
Sebuah kalimat singkat yang maknanya begitu dalam. Kalimat yang memunculkan kembali kesadaran kita akan hakikat kehidupan ini dan apa-apa yang kita miliki. Kalimat yang akan mampu menguatkan jiwa kita.
Meski umumnya wanita memiliki perasaan halus, tetapi memiliki ketegaran jiwa adalah sebuah keharusan. Pun meyakini bahwa setiap ujian adalah kesempatan yang Allah berikan untuk menaikkan derajat kita di hadapan-Nya. Allah tidak akan membebani seseorang di luar kadar kesanggupannya.
Hidup di dunia ini tidaklah seberapa lama. Rasulullah Saw bersabda,
“Perbandingan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat ialah seperti seorang berjalan di laut, lalu memasukkan satu jarinya ke laut kemudian mengangkatnya. Air yang melekat di jari itulah perumpamaan kehidupan di dunia, (sedangkan air yang masih tertinggal di lautan itulah kehidupan akhirat).”
Sebuah harapan selalu tertanam, semoga hayat kita husnul khatimah.
Sebuah renungan ba’da takziah ke rumah seorang teman.

Refesensi !